Teman bicara menurut saya haruslah teman yang bersedia mendengarkan apapun bentuk kalimat yang keluar dari mulut saya. Bisa kalimat dalam tanda ! (artinya saya marah), kalimat dalam tanda ? (saya sedang kebingungan) atau kalimat yang diakhiri dengan ....... (saya galau).
Tidak harus butuh respon balik selama didengarkan. Tapi saya akan minta di respon jika memang saya butuhkan.
Sejauh ini kriteria yang masuk dalam kategori teman bicara yang baik adalah (ehm...) : suami saya. Terlalu baik sehingga dia bisa tahu kalimat yang akan keluar dari mulut saya kerika kalimat baru diucapkan setengah; baru mau akan diucapkan; bahkan ketika kalimat belum diformulasikan dalam pikiran saya tapi sudah terefleksi dari sorot mata saya. Kok bisa sih dia ?
Teman bicara seperti ini kadang bikin ngeri dan sebel. Ngeri karena seperti paranormal bisa tahu maunya saya, sebel karena surprise nggak pernah jadi "surpriseeee !!!!" karena udah ketebak duluan.
Tapi bagusnyaaaaa.......kalau marah cukup kasih "the look" and I save all the energy and words to show him that I'm angry. Bagus kan ?
Tidak harus butuh respon balik selama didengarkan. Tapi saya akan minta di respon jika memang saya butuhkan.
Sejauh ini kriteria yang masuk dalam kategori teman bicara yang baik adalah (ehm...) : suami saya. Terlalu baik sehingga dia bisa tahu kalimat yang akan keluar dari mulut saya kerika kalimat baru diucapkan setengah; baru mau akan diucapkan; bahkan ketika kalimat belum diformulasikan dalam pikiran saya tapi sudah terefleksi dari sorot mata saya. Kok bisa sih dia ?
Teman bicara seperti ini kadang bikin ngeri dan sebel. Ngeri karena seperti paranormal bisa tahu maunya saya, sebel karena surprise nggak pernah jadi "surpriseeee !!!!" karena udah ketebak duluan.
Tapi bagusnyaaaaa.......kalau marah cukup kasih "the look" and I save all the energy and words to show him that I'm angry. Bagus kan ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar